![]() |
| Miris, Lansia di Tangerang Meninggal Diduga Akibat Tidak Mendapatkan Penanganan Medis di Sejumlah Rumah Sakit (Doc. AI/Ilustrasi) |
Likaliku - Miris, Seorang perempuan lanjut usia (Lansia) diduga meninggal dunia setelah tidak mendapatkan penanganan medis di sejumlah rumah sakit di wilayah Tangerang, Provinsi Banten. Peristiwa tersebut dialami keluarga pasien yang tinggal di Kampung Alang, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, pada beberapa waktu lalu.
Asy (Inisial-red), yang merupakan anak dari almarhumah, menceritakan kronologi kisah pilu yang dialaminya saat sang ibunda tercinta dalam kondisi kritis dan membutuhkan perawatan darurat.
Peristiwa bermula pada dini hari, sekitar pukul 02.30 hingga 03.00 WIB. Saat itu, kondisi ibu Aisyah memburuk dan pihak keluarga berencana merawatnya di rumah. Namun sekitar pukul 08.00 WIB, kondisinya semakin menurun sehingga dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Mitra.
"Saya bawa masuk ke dalam, sempat diperiksa tensi sama oksigen yang dipasang. Terus katanya di sini penuh, tidak kebagian bed," ujar Asy (Inisial), menirukan penjelasan petugas.
Menurut Asy (Inisial), saat di rumah kadar oksigen ibunya berada di angka 88 persen. Namun setibanya di RS Mitra, hasil pemeriksaan menunjukkan angka 98 persen dan dinyatakan normal oleh petugas. Karena keterbatasan tempat tidur, pihak rumah sakit menyarankan untuk menunggu di kursi roda.
"Katanya kalau mau menunggu di sini sudah penuh, bed-nya tidak ada, paling di kursi roda, kasihan sama ibunya. Saya lihat ibu saya kasihan karena tidak bisa duduk, harus tiduran," katanya.
Asy (Inisial) mengaku sempat meminta bantuan ambulans rumah sakit tersebut untuk merujuk ibunya ke rumah sakit lain, mengingat kondisi pasien yang sudah dalam keadaan darurat.
"Saya bilang, ini pasien darurat, bolehkah saya pakai ambulans rumah sakit ini? Katanya tidak bisa. Tadi ibu ke sini naik apa? Saya naik Grab. Ya sudah, ibu naik Grab lagi saja," ujarnya.
Setelah dari RS Mitra, Asy (Insial) membawa ibunya ke RS Sitanala. Namun, menurut keterangan dari petugas keamanan, IGD di rumah sakit tersebut juga dalam kondisi penuh.
"Kata security, di sini IGD penuh, kalau tidak percaya tanya ke penjaga IGD. Tapi pasien tidak cepat turun dari mobil (menunggu di dalam mobil)," tuturnya.
Ia menjelaskan, ibunya sudah tidak mampu duduk dan harus dalam posisi berbaring. Namun jawaban yang diterima tetap sama, tidak ada tempat tidur bahkan kursi roda pun tidak tersedia.
"Saya bawa pasien sudah tidak bisa duduk, sudah tiduran. Katanya di sini tidak ada, di sini penuh dan kursi roda pun tidak ada, itu pasien kritis saja pakai kursi roda," ucapnya.
Setelah itu, Asy (Inisial) melanjutkan pencarian ke Rumah Sakit Umum (RSU) Tangerang dan RSUD Kota Tangerang. Di RSU Tangerang, ia mengaku hanya ditanya nama pasien tanpa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
"Cuma ditanya, ibunya namanya siapa? Begitu saja. Sedangkan ibu saya sudah tidak sadar, jadi tidak jawab apa-apa. Bilangnya bed sudah penuh, kursi roda pun tidak ada, coba ke rumah sakit lain," jelasnya.
Kondisi serupa juga dialami saat mendatangi RSUD Kota Tangerang. Menurut Asy (Inisial), ia sempat bertemu petugas IGD, namun tetap tidak mendapatkan penanganan karena alasan keterbatasan bed.
"Saya bawa pasien, sudah darurat, sudah kritis, napasnya sudah sesak. Petugas IGD itu ngomong, saya sih siap menangani, mau yang sesak kek, yang kritis kek, cuma di sini tidak ada bed-nya, gimana? (Dengan nada suara yang dinilai cukup lantang)" katanya.
Bahkan, lanjut Asy (Inisial), almarhumah tidak sempat turun dari mobil selama berada di rumah sakit tersebut.
Upaya terakhir dilakukan dengan mendatangi RS Hermina. Asy (Inisial) mengaku sudah pasrah dan bersedia menunggu meskipun harus menggunakan kursi roda, asalkan ibunya segera ditangani.
"Saya masuk ke Hermina, dan petugas bilang di sini penuh, tidak ada apa. Saya ngomong, tidak apa-apa, saya bisa menunggu. Tapi dijawab tidak bisa, di sini harus menunggu dulu baru ditangani," ungkapnya.
Asy (Inisial) menggambarkan kondisi ibunya yang terus menurun sepanjang perjalanan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Awalnya masih bisa bergerak dan memegang botol minum, namun tidak bisa berbicara. Setibanya di RS Hermina, pasien sudah tidak bergerak dan hanya tertidur dengan suara mengorok.
Setelah tidak mendapatkan penanganan di RS Hermina, Asy (Inisial) memutuskan untuk membawa ibunya pulang untuk dirawat di rumah. Namun di tengah perjalanan, tepatnya di lampu merah M1, ibunya meninggal dunia.
"Pas saya pulang dari Hermina, sepanjang jalan cuma tidur, sudah tidak bisa gerak, dia tidur, dia ngorok, pas sampai di lampu merah M1, orang tua saya meninggal," katanya dengan suara terbata.
Mengetahui ibunya tidak bernapas, Asy (Inisial) bersama tetangganya langsung kembali ke RS Mitra untuk memastikan kondisi.
"Nyampe ke Mitra, langsung ditangani, karena saya sudah nangis-nangis di situ. Langsung ditangani, katanya oh ini sudah meninggal. Dan kenapa baru dibawa? Saya sempat bilang, sudah dua kali ke sini, kenapa tidak sempat diperiksa?" tuturnya.
Ia mengaku sempat mendapat respons dari petugas yang mempertanyakan mengapa tidak mau menunggu. Padahal, menurutnya, kondisi ibunya sudah sangat kritis dan tidak memungkinkan untuk menunggu di kursi roda.
Menurut keterangan keluarga, almarhumah memiliki riwayat penyakit darah tinggi dan gula. Saat kejadian, tekanan darah tercatat 178 dengan kadar gula 550.
Asy (Inisial) berharap kejadian yang dialaminya tidak terulang kepada masyarakat lainnya. Ia menilai, meskipun fasilitas terbatas, pasien dalam kondisi gawat darurat seharusnya tetap mendapatkan pemeriksaan awal maupun penanganan pertama lainnya.
"Maksud saya, seharusnya lihat dulu, walaupun tidak ada bed, tidak ada apa, harusnya lihat dulu. Harapannya ditangani dulu, dilihat dulu," pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Rumah Sakit Mitra, RS Sitanala, RSU Tangerang, RS Kota Tangerang, dan RS Hermina belum memberikan keterangan resmi. Redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait.
Sumber : NrfDlh/Sn
