HUT ke-75, Persaja Bahas dan Dorong Budaya Menulis

HUT ke-75, Persaja Bahas dan Dorong Budaya Menulis
Doc.Pembukaan HUT ke 75 Persatuan Jaksa Indonesia (Persaja) 2026, Jaksa Agung RI ST Burhanuddin.

Likaliku - Gelar wicara bahas “Membangun Budaya Menulis bagi Insan Adhyaksa”, Persatuan Jaksa Indonesia (Persaja) gelar serangkaian kegiatan saat memperingati hari ulang tahun (HUT) ke -75, pada Selasa (28/4/2026).

Dalam kegiatan Persaja Literacy Space 2026 tersebut, Persatuan Jaksa Indonesia (Persaja) melalui berbagai program seperti Adhyaksa Readers, berkomitmen untuk terus mendorong budaya literasi di lingkungan kejaksaan.

Dengan dihadiri sejumlah narasumber, seperti Plt. Wakil Jaksa Agung sekaligus Jaksa Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum), Prof. Asep Nana Mulyana, yang juga sebagai penulis kenamaan Tere Liye, kegiatan ini berlangsung hikmat.

Prof. Asep Nana Mulyana, memaparkan, kemauan adalah kunci dalam menulis. Tanpa keinginan yang kuat, seorang tidak akan mampu memulai, apalagi menyelesaikan sebuah tulisan.

“Jadi itu kemauan yang utama. Kemauan dan keinginan untuk menulis,” ujar Ketua Umum Persaja tersebut dalam acara yang digelar di Jakarta, Selasa (29/4), seperti yang di himpun dari sejumlah media.

HUT ke-75, Persaja Bahas dan Dorong Budaya Menulis
Doc. Talkshow Membahas Budaya Menulis Untuk Insan Adhiyaksa dalam Hut Persaja ke-75

Selain itu, Prof. Asep juga menyoroti pentingnya konsistensi dalam penulisan. Meski hanya beberapa menit, seorang penulis harus mampu meluangkan waktu setiap hari untuk menulis. Sehingga, Konsistensi inilah yang akan menentukan tuntas atau tidaknya sebuah karya.

Berbagi pengalaman pribadinya dalam menulis puluhan buku selama hampir dua (2) dekade. Ia mengakui ide tidak selalu datang setiap hari, namun penulis tetap harus membiasakan diri untuk membuka laptop dan mulai kegiatan menulis. Ketika ide muncul, ia menyarankan agar segera dituangkan tanpa menunda.

Lebih lanjut, Prof. Asep menegaskan bahwa tulisan yang baik bukanlah tulisan yang sempurna, melainkan tulisan yang selesai. Ia mengingatkan agar penulis tidak terjebak dalam obsesi untuk menghasilkan karya sempurna sejak draf pertama.

“Sehebat apa pun ide yang dimiliki, jika tidak diselesaikan, maka itu bukan tulisan yang baik. Tulis saja terlebih dahulu, perbaikan bisa dilakukan kemudian,” tambahnya.

Prof. Asep, juga mendorong para Jaksa, khususnya para generasi muda, untuk berperan aktif menulis sebagai bagian dari pengembangan diri dan dokumentasi pengetahuan. Ia, menyarankan agar para jaksa menjadikan rutinitas pekerjaan sebagai sumber inspirasi.

“Jadikan pekerjaan-pekerjaan Anda itu sebagai pijakan. Menulis dakwaan atau menjadi negosiator bisa menjadi kesempatan untuk mengasah kemampuan menulis secara lebih mendalam,” kata Prof. Asep.

HUT ke-75, Persaja Bahas dan Dorong Budaya Menulis
Prof Asep Bana Mulyana Kiri, dan Penulis Novel Ternama Tere Liye (Kanan), dalam Talkshow Hut Persaja ke-75.

Pada kesempatan yang sama, Tere Liye menambahkan bahwa kemampuan menulis bukan semata-mata soal bakat, melainkan hasil dari latihan yang terus-menerus. Ia menegaskan, tanpa latihan yang konsisten, bakat sehebat apa pun tidak akan berkembang optimal.

“Latihan jauh lebih penting dibandingkan bakat. Semakin sering menulis, maka kualitas tulisan akan semakin baik,” ungkap penulis yang telah menjual jutaan eksemplar buku tersebut.

Ia juga menyoroti tantangan yang sering dihadapi profesional dalam menyelesaikan tulisan, seperti karya ilmiah. Menurutnya, banyak tulisan yang terbengkalai bukan karena sulitnya materi, melainkan karena kurangnya disiplin.

“Bagaimana menulis yang bagus? Kuncinya adalah latihan yang semakin sering. Semakin sering berlatih, semakin bagus kualitas tulisan dan bahasanya. Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai,” pungkasnya.

Sumber : Hukum Online
Editor/Penerbit : Tim

0 Komentar