Likaliku.com - Tamparan keras untuk Negara dan para orang tua, tinggalkan sepucuk surat seorang anak (10 tahun-red) berinisial YBR diduga lakukan bunuh diri, faktor ekonomi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dimana dalam surat tersebut bertuliskan :
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Kabar duka di dunia pendidikan Indonesia ini, bukanlah duka biasa. Diketahui, kematian anak berusia 10 tahun yang duduk di sekolah dasar tersebut diduga bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan pena, sehingga menjadi potret dari masalah yang lebih luas.
Mendapati itu, sejumlah konten kreator disosial media mengkritik hal tersebut. Diantaranya seperti yang diucapkan oleh Subhan Nur Sobah, " Maafkan kami adik. Anak SD bunuh diri gara gara ga bisa beli pena dan buku. Anak SD, lu engga salah denger, Anak SD. yang bahkan harganya itu engga lebih dari 10.000. Tapi orang tuanya engga sanggup beliin karena faktor ekonomi," dalam postingan sosial medianya.
"Jujur ini tamparan keras sih buat kita semuanya, terutama untuk negara yang harusnya bertangung jawab. ini adalah bukti kegagalan sebuah sistem dimana negara yang katanya menjujung tinggi pendidikan tetapi ada anak yang dipatahkan mimpinya karena faktor ekonomi," tambahnya.
Dia juga menyinggung terkait pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) terkait penyebab bannyaknya anak putus sekolah.
" Baru kemarin gua liat di podcast ketua BGN bilang kalo anak putus sekolah itu karena orang tuanya engga bisa kasih jajan kalian ke anaknya, makanya solusinya adalah MBG. Pak, orang tua engga bisa ngasih jajan ke anaknya, solusinya bukan MBG Pak, tetapi perbaiki ekonomi mereka, kasih orang tuanya pekerjaan. Sehingga, kita engga dengar lagi berita ada anak SD bunuh diri karena engga bisa beli buku dan pena," ujar Subhan Nur.
Lebih lanjut, dirinya mengatakan bahwa pemerintah harus turun secara langsung kepada masyarakat, dan jangan mudah percaya hanya berdasarkan data yang belum tentu sesuai hasilnya.
"Baru kemarin kalian berbangga dengan sebuah data, yang katanya angka kemiskinan menurun. Benar pak menurun, karena orang miskinnya pada mati, masih mau berbangga dengan data yang kalian dapat dari anak buah kalian tanpa tahu real nya di lapangan seperti apa. Atau kalian masih mau bilang kasus seperti ini cuma satu dari jutaan anak sekolah, gitu? Kalau setelah kejadian ini enggak ada yang berubah, pertanyaan gua, perlu berapa nyawa lagi agar kalian sadar!!!," pungkasnya.
Sementara itu, Rocky gerung, Akademikus dan filsuf Indonesia, “Berapa harga buku itu?” tanya Rocky, suaranya meninggi. “Rp10 ribu. Itu berapa per mil dari Rp17 triliun?," ucapnya, seperti yang di himpun.
Baginya, peristiwa di NTT adalah cermin retak republik—ketika beban hidup begitu berat bahkan dirasakan oleh anak-anak, sementara negara sibuk berbicara angka-angka besar di panggung global. Ia menyebut peristiwa itu sebagai alarm keras bahwa ada yang tidak beres dalam urusan publik, dalam cara negara memihak.
Republik bukan soal nama, bukan pula soal proyek. Ia soal keberpihakan. Soal public value. Soal kemampuan negara merasakan “hal-hal kecil” yang menentukan martabat warganya. Jika tidak, republik akan tetap berdiri sebagai bangunan, tetapi kosong di dalam—tanpa etos, tanpa nurani.
Sumber : Tim


0 Komentar