![]() |
| Doc. Drg Fika S Khayan, saat menangani pasien anak di ruang kerjanya. |
Likaliku.com - Gigi yang sehat sering kali baru disadari nilainya ketika rasa nyeri mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Padahal, kesehatan gigi berperan penting dalam kualitas hidup, mulai dari kenyamanan makan hingga produktivitas kerja. Namun, satu faktor sederhana yang kerap diabaikan adalah konsumsi makanan berserat.
Dalam keseharian, kesehatan gigi masih sering dipahami sebatas rutinitas menyikat gigi. Padahal, rongga mulut merupakan ekosistem tubuh yang kompleks dan menjadi bagian penting dari sistem pencernaan.
Kebiasaan hidup, termasuk pola makan, turut memengaruhi kualitas ekosistem mulut. Apa yang dikonsumsi setiap hari dapat mendukung kesehatan gigi, tetapi juga berpotensi memicu berbagai masalah. Dalam konteks inilah, konsumsi makanan berserat menjadi faktor penting yang kerap luput dari perhatian.
![]() |
Serat merupakan komponen pangan yang berasal dari bagian tumbuhan dan tidak dapat dicerna sepenuhnya oleh tubuh. Dalam pola makan sehari-hari, serat umumnya ditemukan pada buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, serta biji-bijian utuh. Berdasarkan sifatnya, serat dikenal dalam dua bentuk utama, yakni serat larut dan serat tidak larut. Keduanya memiliki peran berbeda dalam tubuh, namun sama-sama berkontribusi dalam menjaga keseimbangan kesehatan, termasuk kesehatan rongga mulut. Buah segar seperti apel, pir, dan jambu, serta sayuran seperti wortel, brokoli, dan seledri merupakan contoh makanan berserat yang umum dikonsumsi.
Sementara itu, kacang-kacangan dan biji-bijian utuh menyediakan serat dengan tekstur yang lebih kasar dan memerlukan proses pengunyahan lebih lama. Variasi tekstur inilah yang menjadikan makanan berserat tidak hanya bermanfaat bagi sistem pencernaan, tetapi juga relevan dalam menjaga kesehatan gigi.
Makanan berserat berperan dalam menjaga kesehatan gigi melalui mekanisme alami yang sederhana namun efektif. Tekstur makanan berserat umumnya membutuhkan proses pengunyahan yang lebih intens, sehingga merangsang produksi air liur.
Air liur memiliki fungsi penting dalam rongga mulut, antara lain membantu membersihkan sisa makanan, menetralkan asam yang dihasilkan bakteri, serta menjaga keseimbangan mineral pada permukaan gigi. Ketika produksi air liur berlangsung optimal, lingkungan rongga mulut menjadi lebih kondusif bagi kesehatan gigi dan gusi.
Selain itu, serat memberikan efek pembersihan mekanis pada permukaan gigi. Proses mengunyah makanan berserat dapat membantu mengurangi penumpukan plak ringan yang menempel pada gigi. Meskipun tidak dapat menggantikan peran sikat gigi, efek ini berkontribusi dalam menekan risiko terjadinya karies dan peradangan gusi. Dengan kata lain, makanan berserat bekerja sebagai pelengkap alami dalam upaya menjaga kebersihan dan kesehatan rongga mulut.
Bagi anak-anak, kebiasaan mengonsumsi buah dan sayur berserat dapat membantu pembentukan struktur rahang yang lebih baik, sekaligus menurunkan risiko karies.
Bagi orang dewasa, serat membantu menjaga kesehatan jaringan gusi dan menekan risiko penyakit periodontal yang sering kali berkembang tanpa disadari.
Bahkan pada lansia, pola makan berserat tetap penting untuk menjaga fungsi saliva yang cenderung menurun seiring usia.
Sayangnya, pola konsumsi masyarakat saat ini bergerak ke arah sebaliknya. Makanan ultra-proses, tinggi gula, rendah serat, dan mudah ditelan semakin mendominasi, baik pada anak-anak maupun orang dewasa.
Kombinasi ini menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri penyebab karies untuk berkembang. Tidak mengherankan jika penyakit gigi dan mulut masih menjadi salah satu masalah kesehatan dengan prevalensi tinggi di Indonesia.
Upaya menjaga kesehatan gigi akan lebih efektif jika dibarengi dengan edukasi yang tepat. Selama ini, edukasi kesehatan gigi masih banyak berfokus pada kebiasaan menyikat gigi, sementara peran pola makan sering kali kurang mendapat perhatian. Padahal, pemahaman tentang hubungan antara makanan berserat dan kesehatan gigi penting untuk dikenalkan sejak dini dan disampaikan secara berkelanjutan, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun fasilitas kesehatan.
![]() |
| Doc. Fasilitas Alat Yang Kerap digunakan drg. Fika. |
Edukasi semacam ini perlu dikaitkan dengan pemahaman gizi sehari-hari agar mudah diterima masyarakat. Ketika orang menyadari bahwa pilihan makanan yang dikonsumsi setiap hari turut memengaruhi kesehatan gigi, upaya pencegahan menjadi lebih bermakna. Dengan cara ini, kesehatan gigi tidak hanya dipahami sebagai urusan perawatan, tetapi juga sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat.
Menjaga kesehatan gigi sejatinya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. Memilih makanan berserat bukan hanya bermanfaat bagi tubuh, tetapi juga membantu menjaga kesehatan gigi dan rongga mulut secara alami.
Kebiasaan ini akan semakin bermakna jika disertai dengan pemeriksaan gigi secara rutin, sehingga masalah dapat dikenali dan ditangani lebih awal. Dengan langkah-langkah sederhana tersebut, kesehatan gigi tidak lagi menjadi sesuatu yang baru disadari ketika rasa nyeri muncul, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas hidup. Di sinilah makanan berserat layak disebut sebagai pahlawan senyap dalam menjaga kesehatan gigi.
Sumber :
Drg. Fika S Khayan,
Humas RSUD Kota Tangerang Lulusan Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran



0 Komentar