Dilema Koh Ahok
Ditulis Oleh Likaliku, 10/01/2017

dilemakoh-ahok

Sebelum kalian berpikir bahwa saya adalah anggota FPI, temennya Bang Novel yang pernah kerja di Fitsa Hats..maka perlu rasanya saya untuk mempertegas jati diri saya yang sebenarnya, dengan ini saya menyatakan bahwa SAYA :

  • Muslim
  • Tidak berafiliasi dengan FPI cabang manapun  
  • Ikut mendengar kutbah dan sholat jumat pada saat aksi damai 212 di Monas
  • Seorang perantau dari kota Medan yang sejak akhir tahun 2010 nyari makan di ibukota.
  • Berkeyakinan Kalo Bapak Basuki Tjahaja Purnama (saya panggil Koh Ahok) telah melakukan penghinaan terhadap para ulama/ penistaan agama pada saat berpidato di Kepulauan Seribu pada tanggal 27 September 2016.
  • Berdomisili di Kabupaten Bogor dan sudah memiliki KTP Bogor, sehingga secara resmi saya tidak punya hak suara pada Pilkada DKI tahun 2017. 

Tulisan berikut ini murni hasil pemikiran saya, berdasarkan pengalaman dan pengamatan sehari - hari saya sebagai warga Jakarta "Jam-jaman" (pada saat Jam Kerja), curhatan teman - teman di kantor dan bukan pesanan dari pihak manapun...

Sebelum kita mulai, yuk berpikir obyektif, lupakan Koh Ahok  yang Warga Keturunan dan seorang Kristen, lupakan mulutnya yang sering mengeluarkan kata-kata kotor dan  menyinggung perasaan, lupakan, lupakan, lupakan dan lupakan. Mari kita  melihat kebelakang, apa saja yang sudah dilakukan Koh Ahok untuk merapikan Birokrasi Jakarta.

Kenapa Birokrasi?

Karena bagi saya pribadi, ini satu-satunya yang berhasil dari Koh Ahok, berhasil dalam pengertian yang sebenarnya...

Urusan Kemacetan, per-parkir-an dan lalu lintas lainnya? berjalan ditempat...

Urusan Banjir? doi hoki aja karena curah hujan di Jakarta 1-2 tahun terakhir tercatat emang berkurang,

Urusan Perkotaan, taman kota  dan sejenisnya? bukan prestasi spektakuler, karena itu emang menjadi trend pemimpin "level" kota saat ini, Bu Risma berhasil, Ridwan Kamil juga berhasil, bahkan Pak Dedi di Purwakarta juga berhasil..

emang Koh Ahok mau dibandingkan dengan pejabat selevel Walikota/ Bupati?

Tapi dalam urusan Birokrasi, Koh Ahok bukan hanya memperbaiki, tapi udah melakukan reformasi besar terhadap Birokrasi Jakarta dan ini sebenarnya pondasi awal untuk memperbaiki hal lainnya. Sudah menjadi hal biasa, bahwa Birokrasi Pemerintahan Daerah manapun di Indonesia sangat buruk. Sudah ribuan kali kita mendengar keluhan masyarakat tentang mahalnya mengurus KTP, rumitnya mengurus KK dan Akta Lahir, bahkan hanya untuk mengurus surat keterangan domisili sementara saja repotnya minta ampun.

Tapi di era Koh Ahok, bayang - bayang tentang kesuraman Birokrasi Jakarta perlahan - lahan hilang, Pegawai Pemprov DKI yang konon mendapatkan tunjangan dan gaji belasan juta setiap bulannya udah ndak bisa banyak gaya klo lagi kerja, mereka mulai bertransformasi menjadi pelayan masyarakat.

Lho Kok Bisa? Bisa donk, karena sekarang mereka diawasi dengan ketat oleh Koh Ahok melalui Pejabat - pejabat hasil lelang jabatan dan seleksi yang terbukti lebih baik dari pejabat konvensional yang menjadi pejabat karena senioritas (masa bakti) dan jalur pertemanan.

Selain itu keputusan Koh Ahok  mengembangkan aplikasi pengaduan berbasis smartphone (biasa disebut QLUE) benar - benar berjalan sukses, masyarakat yang lagi kegandrungan gadget dapat dengan mudah "melapor langsung" kepada sang gubernur dan beberapa hari kemudian laporannya sudah ditindaklanjuti oleh perpanjangan tangan Koh Ahok, baik itu oleh Perangkat pemerintahan maupun Pasukan Power Ranger Jakarta (Orange, Biru, Hijau dan Ungu).

Okeh, kita melenceng sebentar untuk ngomongin Pasukan Power Ranger Jakarta, klo soal perannya ndak usah ditanya deh, apa aja mereka kerjakan dengan tuntas, gorong - gorong mampet, ngerapihin taman yang rusak sampe ngurusin gelandangan, semuanya beres. Dengar - dengar seorang PHL (Pegawai Harian Lepas) di Pasukan tersebut menerima gaji 3,1 juta dan fasilitas pekerja lainnya seperti BPJS, tunjangan pendidikan anak melalui KJP, jelas ini sangat menarik. Namun semakin menarik karena untuk menjadi bagian dari pasukan ini harus lah  warga Jakarta dan memiliki KTP Jakarta dengan kata lain mereka punya hak suara pada Pilkadi DKI 2017.

ehm....bayangkan betapa besar dukungan yang mereka berikan untuk Koh Ahok pada Pilkada DKI 2017? Catat !! bukan hanya mereka secara perorangan, tapi juga istri dan seluruh anggota keluarga lainnya? Koh Ahok nakal ya....tp cerdas....(Tanpa kita sadari, doi membangun Kantong Suara dari akar rumput)

Balik lagi ke soal Birokrasi, apa yang dirasakan masyarakat di era Koh Ahok? dari apa yang saya kutip dari teman - teman saya yang warga Jakarta, PNS - PNS di Pemprov DKI sekarang kerjanya lumayan bener dan lebih ramah, jiwa melayaninya sudah muncul dan yang terpenting, apa - apa jadi mudah dan cepet, ndak di-pingpong kayak sebelum-sebelumnya. Masyarakat jadi lebih berani berhadapan dengan aparat pemerintahan, karena mereka yakin bahwa gubernurnya "Koh Ahok" akan hadir untuk membela mereka dan menghukum aparat yang nakal.

Dan jujur, itulah yang hilang selama ini...

Harus diakui, baru di Era Koh Ahok inilah kita merasa Pemerintah Provinsi ADA buat ngurusin warga Jakarta, bahkan untuk hal - hal sepele sampe hal hal yang bersifat rahasia. Bayangkan aja, bahkan rapat internal Pemprov DKI pun dapat kita tonton melalui channel Youtube, benar - benar era keterbukaan, bukan cuma terbuka kali ya..Tapi telanjang...., gimana pejabat - pejabat di Pemprov DKI ndak jiper. Mau macem - macem, bisa bisa ditendang....

Pertanyaan selanjutnya, mampukan Gubernur DKI Selanjutnya mempertahankan ini? ini yang masih gelap...

Prinsipnya seburuk buruknya Koh Ahok, kita harus jujur ternyata ada sedikit baiknya jg, dan yg sedikit ini nilainya cukup penting dan langsung mengena ke sasaran..

So, sekali lagi, saya bukan pendukung Koh Ahok, dan saya masih yakin dalam kasus penghinaan terhadap para ulama/ penistaan agama yang sedang disidangkan ini, doi bakal kena batunya...Amin...

Huuu...udah 4 tahun ndak nulis...tangan jadi kaku...hehehehe..harap maklum klo tulisannya ngaco....okeh...dah dulu ya.......

Assalamualaikum.....

Update : 11/01/2017, 10:28 WIB

Bookmark and Share

Komentar
Awisob
11/01/2017, 03:53 WIB
"...Cukup berimbang, tapi wajar donk hasil kerjanya begitu,Ahok cuma mimpin Jakarta 2 tahun lo......"